Determinasi Dan Penguatan Toleransi Dalam Komunitas Muslim: Systematic Review Penelitian Kuantitatif Sepanjang 2015–2025

Penulis

  • Muhammad Nawir Universita Muhammadiyah Makassar, Indonesia
  • Rusli Universita Muhammadiyah Makassar, Indonesia
  • Sarajuddin Silapa Universita Muhammadiyah Makassar, Indonesia
  • Azis Universita Muhammadiyah Makassar, Indonesia
  • Engel Hukunala Universitas Muhammadiyah Makassar, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.62388/jpdp.v5i2.604

Kata Kunci:

Islam, Tolerance, Religious Moderation, Systematic Literature, Meta-Analysis

Abstrak

Ulasan sistematis ini mengkaji penelitian kuantitatif tentang Islam dan toleransi yang diterbitkan antara tahun 2015 dan 2025 dengan tujuan mengidentifikasi faktor-faktor penentu toleransi dalam komunitas Muslim, mengevaluasi efektivitas intervensi yang meningkatkan toleransi, dan memetakan karakteristik metodologis studi-studi tersebut. Pencarian literatur dilakukan di sembilan basis data (JSTOR, Google Scholar, ProQuest, ATLA Religion Database, Index Islamicus Online, Scopus, Al-Maktabah Al-Shamela, Islamic Studies Online, dan Sinta) menggunakan kata kunci “Islam,” “toleransi,” “toleransi agama,” dan padanannya dalam bahasa Inggris dan Indonesia. Pemilihan artikel mengikuti protokol PRISMA-P dan kriteria PICOS. Dari penyaringan awal 1.000 catatan, 30 studi kuantitatif primer memenuhi kriteria inklusi (survei, eksperimen, dan analisis longitudinal) dan dianalisis secara naratif dan tabular. Penilaian kualitas menggunakan ROBINS-I menunjukkan bahwa sebagian besar studi memiliki risiko bias rendah hingga sedang. Temuan menunjukkan bahwa toleransi dipengaruhi oleh faktor-faktor sosiodemografis (pendidikan dan pendapatan meningkatkan toleransi[1]), orientasi agama dan ciri kepribadian[2], pengalaman multietnis[3], kerendahan hati intelektual[4], dan fleksibilitas kognitif[5], serta konteks institusional (sekolah, universitas, dan kota). Intervensi seperti permainan berbasis digital (aplikasi OMG) dan program pendidikan agama terbukti meningkatkan skor toleransi[6]. Survei berskala besar (Pew Research Center) menunjukkan bahwa masyarakat India menghargai penghormatan terhadap semua agama sambil tetap mengutamakan segregasi[7]. Hasil ini menyoroti pentingnya pendidikan progresif, penguatan moderasi agama, dan penerapan kebijakan berbasis bukti untuk mempromosikan toleransi. Tinjauan ini juga mengidentifikasi celah penelitian, termasuk kelangkaan studi longitudinal dan kurangnya data perbandingan antar negara.

 

Referensi

Izharuddin Y, Sianipar CP. How religious tolerance can emerge among religious people: The mediating role of intellectual humility and cognitive flexibility. Humanitas Indonesian Psychological Journal. 2021. Evidence lines: kerendahan hati intelektual dan fleksibilitas kognitif memediasi hubungan religiositas-toleransi[4][5].

Magdalene L, dkk. Socio‑Economic predictors of religious intolerance in Indonesia. Economies. 2022. Pendidikan dan pendapatan meningkatkan toleransi; religiositas menurunkan toleransi[1][19].

Khan S, dkk. Demographics and religious tolerance among youth. Pakistan Journal of Psychological Research. 2024. Keterikatan mazhab menurunkan toleransi; pendidikan meningkatkan toleransi[10][20].

Svendsen S, dkk. Attitudes toward Muslims among majority youth. Nordic Journal of Migration Research. 2022. Sekolah multietnik meningkatkan toleransi[3][21].

Harron N, dkk. Education, religiosity and support for violent practices among Muslims. PLOS ONE. 2021. Pendidikan mengurangi dukungan terhadap praktik kekerasan[22][23].

Zamroni M, dkk. Religious tolerance among college students: Influence of religious orientation and personality traits. Humanitas Indonesian Psychological Journal. 2020. Orientasi intrinsik dan sifat agreeableness/openness meningkatkan toleransi[2].

Khan S, dkk. Development and validation of Religious Tolerance Scale for youth. Journal of Religion and Health. 2020. Skala 25 item dengan tujuh faktor divalidasi.

Al‑Mutlaq S, dkk. Index of tolerance values of Saudi society individuals. Societies. 2022. Menemukan enam faktor toleransi[17][24].

Yusoff N, dkk. The practice of tolerance among Islamic education teachers through shura. Creative Education. 2019. Shura meningkatkan toleransi guru[25].

Hasan N, dkk. The significance of religious tolerance for university students. Islamic Guidance and Counseling Journal. 2023. Toleransi memoderasi hubungan antara kepercayaan dan kebahagiaan[26].

Subandi M, dkk. Religious tolerance measurement: validity test in Indonesia. Jurnal Pengukuran Psikologi dan Pendidikan Indonesia. 2021. Validasi skala toleransi 29 item[15].

Rahmawati F, dkk. Students’ religious tolerance: comparing Muslim students at public schools and pesantren. Journal of Indonesian Islam. 2022. Pelajar sekolah umum lebih toleran dibanding pesantren[27].

Velthuis M, dkk. Tolerance of Muslim minority identity enactment: The roles of social context. Journal of Community & Applied Social Psychology. 2022. Eksperimen dengan 826 peserta, menemukan toleransi lebih tinggi di ruang privat[9][28].

Zamroni A, dkk. Validation of tolerance scale for high school students. Journal for ReAttach Therapy and Developmental Diversities. 2023. Faktor damai, keberanian, hormat, kesadaran, kerja sama teridentifikasi[16][29].

Chakim A, dkk. Our Moderate Game (OMG) app: Evaluating effectiveness in increasing tolerance. HTS Teologiese Studies. 2023. Aplikasi OMG meningkatkan toleransi remaja[6][30].

INFID. Toleransi, keberagaman dan kebebasan generasi Z dan milenial. Laporan INFID. 2021. Survei 1 200 responden menunjukkan persepsi toleransi bervariasi[31].

Guerra R, dkk. Prejudice and acceptance of Muslim minority practices: Results from 2015. Journal of Ethnic and Migration Studies. 2015. Data tahun 2015 menunjukkan toleransi bergantung pada jenis praktik[32].

Guerra R, dkk. Prejudice and acceptance (2017). JEMS. 2017. Survei 2017 menunjukkan pola serupa dengan sedikit peningkatan toleransi[32].

Guerra R, dkk. Prejudice and acceptance (2018). JEMS. 2018. Survei 2018 menegaskan penolakan terhadap praktik tertentu masih tinggi[32].

Blommaert L, dkk. Tolerance of the Muslim headscarf. Journal of Social Issues. 2022. Headscarf karena pilihan pribadi ditoleransi; tekanan komunitas ditolak[33].

Pew Research Center. Religion in India: Tolerance and segregation. 2021. Masyarakat menilai hormat agama penting tetapi mendukung segregasi[7].

Siregar N, dkk. Enhancing religious literacy for the promotion of tolerance: FAITH model. IRJMS. 2025. Uji coba menunjukkan peningkatan literasi dan toleransi[13].

Wijayanti T, dkk. Religious harmony index in Yogyakarta. Profetika. 2023. Indeks harmoni 78,90 (kategori tinggi)[18].

Search for Common Ground. Public perception on religious freedom and tolerance. 2019. Toleransi bervariasi antar kota[8].

Suntana I, Tresnawaty B. Highly educated Muslims and the problem of intolerance in Indonesia. HTS Teologiese Studies. 2022. Survei kohort 1 300 mahasiswa menemukan toleransi terhadap pluralitas namun intoleransi terhadap pendirian rumah ibadah[11].

Pajarianto H, dkk. Youth religious moderation model and tolerance strengthening through intellectual humility. HTS Teologiese Studies. 2023. Moderasi agama (komitmen nasional, anti‑kekerasan, akomodasi budaya) dan kerendahan hati intelektual memperkuat toleransi[34].

Ardi R, dkk. Religious schema and tolerance towards alienated groups in Indonesia. Heliyon. 2021. 761 mahasiswa dari enam universitas; mahasiswa universitas Islam kurang toleran[12].

Anas M, dkk. Acceptance of ‘the Others’ in religious tolerance: Policies and implementation strategies in Salatiga. Heliyon. 2025. Survei komunitas (100 responden) menunjukkan 78 % menilai kebijakan toleransi efektif[35].

Charles C, dkk. The use of cinematherapy techniques in developing religious tolerance in students. BICED Proceedings. 2021. Kuasi‑eksperimen dengan 12 siswa kelompok eksperimen dan 12 kontrol meningkatkan skor toleransi[14].

Diterbitkan

2025-12-31

Cara Mengutip

Nawir, M. ., Rusli, Silapa, S. ., Azis, & Hukunala, E. . (2025). Determinasi Dan Penguatan Toleransi Dalam Komunitas Muslim: Systematic Review Penelitian Kuantitatif Sepanjang 2015–2025. Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran, 5(2), 79–93. https://doi.org/10.62388/jpdp.v5i2.604